Langsung ke konten utama

Peran Bioteknologi Dalam Pembuatan Pupuk Hayati


PERAN BIOTEKNOLOGI DALAM PEMBUATAN PUPUK HAYATI


Oleh
Nama             : Febryan Dwi Anggara
NPM              : E1J017068
Dosen             : Prof. Dr. Marulak Simarmata,M.Sc.



PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2020





BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sektor pertanian memiliki andil dan tanggung jawab yang besar dalam penyediaan pangan yang cukup bagi penduduk. Perubahan cara bercocok tanam dari cara tradisional ke cara modern yang diterapkan pada masa revolusi hijau berhasil meningkatkan produksi pertanian secara spektakuler. Penggunaan bibit unggul, perluasan daerah irigasi, penerapan mekanisasi pertanian, penggunaan pupuk dan pestisida sintetis mampu mendongkrak produksi pertanian menjadi berlipatlipat. Khusus untuk penggunaan pupuk, secara prinsip dilakukan karena kebutuhan hara tanaman tidak lagi mampu dipenuhi dari ketersediaan unsur hara di alam. Hal ini dilakukan untuk menyuplai hara yang dibutuhkan tanaman selama pertumbuhannya serta memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.

1.2. Permasalahan
Bagaiman peran bioteknologi dalam proses pembuatan pupuk hayati.

1.3. Tujuan Penelitian
Mengetahui peran bioteknologi dalam proses pembuatan pupuk hayati.

1.4. Metode Penulisan
Karya Tulis ini dibuat dengan menggunakan metode pustaka.

1.5. Manfaat Penelitian
Hasil karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat menambah wawasan  peran bioteknologi dalam proses pembuatan pupuk hayati..





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pupuk hayati adalah inokulan berbahan aktif organisme hidup atau laten dalam bentuk cair atau padat yang memiliki kemampuan untuk memobilisasi, memfasilitasi dan meningkatkan ketersediaan hara tidak tersedia (N2, hara terikat dalam mineral atau terikat dalam bentuk senyawa organik) menjadi bentuk tersedia melalui proses biologis. Dekomposer atau mikroba perombak dikategorikan sebagai pupuk hayati karena berperan aktif dalam mengubah hara tidak tersedia atau terikat dalam bentuk senyawa organik menjadi hara tersedia melalui proses mineralisasi atau dekomposisi. Secara konseptual terdapat beragam makna pupuk hayati. Menurut Rao (1982), pemakaian istilah inokulan mikroba lebih tepat dibanding pupuk hayati. Lebih lanjut Rao mendefinisikan pupuk hayati sebagai preparasi yang mengandung sel-sel dari strain-strain efektif mikroba penambat nitrogen, pelarut fosfat atau selulolitik yang digunakan pada biji, tanah atau tempat pengomposan dengan tujuan meningkatkan jumlah mikroba tersebut dan mempercepat proses mikrobial tertentu untuk menambah banyak ketersediaan hara dalam bentuk tersedia yang dapat diasimilasi tanaman.
Pupuk hayati, menurut FNCA Biofertilizer Project Group (2006) merupakan substansi yang mengandung mikroorganisme hidup yang mengkolonisasi rizosfir atau bagian dalam tanaman dan memacu pertumbuhan dengan jalan meningkatkan pasokan ketersediaan hara primer dan/atau stimulus pertumbuhan tanaman target, bila dipakai pada benih, permukaan tanaman, atau tanah. Mereka hanya membatasi istilah pupuk hayati pada mikroba. Simanungkalit et al. (2006) memberikan konsep pupuk hayati tidak hanya sebatas melibatkan mikroba tetapi juga melibatkan makrofauna seperti cacing tanah. Bila inokulan hanya mengandung pupuk hayati mikroba, inokulan tersebut dapat juga disebut pupuk mikroba (microbial fertilizer).
Secara tegas Simanungkalit et al. (2006) mendefinisikan pupuk hayati sebagai inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman. Memfasilitasi tersedianya hara ini dapat berlangsung melalui peningkatan akses tanaman terhadap hara misalnya oleh cendawan mikoriza arbuskuler, pelarutan oleh mikroba pelarut fosfat, maupun perombakan oleh fungi, aktinomiset atau cacing tanah. Penyediaan hara ini berlangsung melalui hubungan simbiotis atau nonsimbiotis.




BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Proses Pembuatan Pupuk Hayati
1. Identifikasi dan karakterisasi Mikroorganisme secara : morfologi, biokimia, molekuler dan dll.
2. Isolasi, pemurnian dan perbanyakan
3. Seleksi Mikroorganisme unggulan
4. Isolasi, penyusunan formulasi dan pengujian lapang
5. Bila isolasi, penyusunan formulasi dan pengujian lapang tidak efektif maka akan diberhentikan tapi bila efektif maka akan diperbanyak secara masal kemudian dikemas lalu diaplikasi di lapangan






BAB IV
PEMBAHASAN

Secara ringkas proses pembuatan pupuk hayati telah dijelaskan pada metode penelitian. Kunci sukses pembuatan pupuk hayati terletak pada kemampuan identifikasi dan karakterisasi mikroorganisme unggulan dan komtibel jika diformulasikan sebagai pupuk hayati. Dengan kemajuan dibidang bioteknologi, identifikasi dan karakterisasi dapat dilakukan hingga tingkat molekuler sehingga akurasi informasi yang diperoleh terjamin. Sebagaimana diketahui, kajian pada tingkat molekuler menyebabkan bias datandan informasi dari pengamatan secara fenotipa dapat dihindari karena pengaruh lingkungan sangat kecil. Jenis yang teridentifikasi dapat dibuktikan keunggulannya secara meyakinkan. Dengan bioteknologi juga dapat diketahui hubungan kekerabatan masing-masing jenis yang ditemukan dan tingkat kompatabilitas berbagai jenis mikroorganisme yang ada sehingga bila dikombinasikan dalam suatu formulasi tertentu akan menghasilkan efek kinerjanya yang optimal.





BAB V
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Peran bioteknologi dalam proses pembuatan pupuk hayati adalah dengan mengidentifikasi dan karakterisasi mikroorganisme unggulan, hubungan kekerabatan dan tingkat komtibel mikroorganisme dapat dilakukan secara molekuler sehingga diperoleh informasi yang lebih akurat.

4.2. Saran
Perlunya akan pengetahuan tentang bioteknologi agar kita dapat memanfaatkan mikroorganisme yang masih belum banyak dimanfatkan.





DAFTAR PUSTAKA

FNCA Biofertilizer Project Group. 2006. Biofertilizer Manual. Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA). Japan Atomic Industrial Forum, Tokyo.

Simanungkalit, R.D.M., D. A. Suriadikarta, R. Saraswati, D. Setyorini dan W. Hartatik.
2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar Litbeng Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Subba Rao, N.S. 1982. Biofertilizer in Agriculture. Oxford and IBH Publishing Co., New
Delhi.

Komentar

Posting Komentar